Menu

Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
PDF Print

 

Doktor Program Pascasarjana S2 Kesehatan Masyarakat

 

Kemajuan perguruan tinggi ditentukan oleh faktor internal dan eksternal. Namun diantara faktor internal yang paling berpengaruh adalah kualitas dosen. Memang tidak mudah untuk mendefinisikan dosen yang berkualitas karena pengertian berkualitas tidak saja menyangkut komponen akademik, tetapi juga termasuk komponen non akademik. Cukup banyak juga bukti bahwa dosen yang berkualitas secara akademik, tetapi tidak diikuti dengan berkualitas secara non akademik. Namum dari sisi komponen akademik, kualitas dosen paling tidak dapat diwakili dari gelar akademik tertinggi yang disandang atau diperoleh  dan reputasi bidang keahlian yang ditekuni oleh seorang dosen. Gelar akademik yang lazim di banyak negara dibedakan atas sarjana muda (BA dan BSc), master (MA dan MSc) dan doktor (Ph.D). Di Indonesia gelar akademik secara umum lebih dikenal dengan tingkatan sarjana (S1), magister (S2) dan doktor (S3).

Universitas yang masuk universitas kelas dunia (world class university) dalam waktu kurang 20 tahun seperti Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Seoul National University (SNU), Yuean Ze University, Taiwan dan Koc University, Turki  merekrut doktor dan para professor dari universitas terkemuka di dunia yang diangkat sebagai dosen dan pimpinan univerisitas. Misalnya, Seoul National University (SNU) merekrut 200 dosen internasional. Langkah seperti ini juga ditempuh oleh univeritas di negara-negara Timur Tengah yang kaya minyak bumi seperti Emirat, Arab Saudi dan negara lainnya.

Tabel 1 DoktorBerbeda dengan perguruan tinggi di Indonesia, terutama perguruan tinggi negeri, masih mengandalkan sumberdaya dosen domestik yang masih terbatas dalam banyak hal. Kalaupun terdapat dosen atau guru besar dari universitas berkelas dunia yang mengajar di perguruan tinggi di Indonesia, tidak lebih dari penugasan dalam rangka kerjasama atau proyek kerjasama yang berlangsung atau dosen asing yang mengabdi dengan cara sukarela. Merekrut dosen asing atas inisiatif perguruan tinggi  negeri sendiri dapat dipastikan hampir tidak ada karena keterbatasan kemampuan keuangan dan hambatan beberapa peraturan keuangan negara seperti standar biaya umum dan standar biaya khusus.

Memang  tidak dapat dipungkiri beberapa perguruan tinggi di Indonesia mampu merekrut dosen asing, tetapi pada umumnya perguruan tinggi tersebut berstatus swasta seperti Universitas Pelita Harapan, President University atau perguruan tinggi lainnya yang terdapat di Jakarta, Surabaya dan kota besar lainnya. Sebaliknya putra-putra terbaik Indonesia tidak sedikit pula jumlahnya yang dikrekrut oleh universitas berkelas dunia di manca negara dan bahkan berkontribusi besar untuk meningkatkan reputasi universitas atau perguruan tinggi tempat mereka bekerja.

Jumlah dan Distribuasi Dosen dengan Kualitas DoktorTerlepas dari cara perguruan tinggi di luar negeri merekrut dosen, pengelola perguruan tinggi di Indonesia masih dihadapkan pada terbatasnya jumlah dosen yang berkualifikasi doktor. Jumlah doktor (S3) di Indonesia menurut informasi yang sering disampaikan pejabat Kemendikbud RI pada  pertengahan tahun 2014 baru mencapai 27.000 orang dan diantaranya didominasi oleh doktor dalam bidang ilmu sosial. Sementara jumlah perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta (universitas, institut, sekolah tinggi, politeknik dan akademi) di bawah Kemdikbud RI pada awal tahun 2014 mencapai  3.236 perguruan tinggi dengan 17.451 program studi (Prodi). Selanjutnya di bawah Kementerian Agama RI terdapat 678 perguruan tinggi dengan 2.368 program studi. Jika dibandingkan jumlah doktor dengan jumlah perguruan  di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan Kementerian Agama RI, maka sudah dapat dipastikan bahwa jumlah dosen dengan kualifikasi doktor sangat kurang, kekurangan tersebut sangat dirasakan di perguruan tinggi negeri di luar pulau Jawa. Undang-undang Nomor 14, Tahun 2005 tentang Dosen dan Guru, masih menetapkan kualifikasi pendidikan dosen yang paling rendah S2. Namun Peraturan Pemerintah Nomor 49, Tahun 2014 secara tidak langsung menghendaki agar dosen perguruan tinggi negeri dan swasta lebih banyak dosen yang berkualifikasi S3.

Apa yang dideskripsikan secara nasional, juga menghimpit sumberdaya dosen Unand. Meskipun sudah diadakan berbagai upaya, jumlah doktor yang dimiliki Unand sampai bulan November 2014 baru mencapai 452 orang atau 32,73% dari 1.381 dosen Unand seperti yang terlihat pada Tabel 1. Jumlah  dosen yang berkualifikasi mengalami peningkatan luar biasa dari dua tahun sebelumnya yang baru mencapai 297 orang.

Jika dibandingkan dengan target nasional, jumlah dan proporsi doktor Unand sudah berada di atas angka rata-rata nasional, tetapi masih rendah dibandingkan dengan ITB, UI, UGM, IPB, Unair, Unpad dan bahkan Unhas yang sama berdiri dengan Unand pada tahun 1956.  Jumlah ini tentu semakin tidak sebanding dengan jumlah doktor perguruan tinggi di Singapura, Malaysia dan Korea Selatan. Tetapi jumlah doktor saat ini yang dicapai Unand sudah dapat dikatakan maksimal dengan  memperhatikan kendala internal dan eksternal yang dihadapi Unand.

Jumlah Dosen Unand berdasarkan Kualifikasi Pendidikan Tahun 2014Selain jumlah doktor yang masih relatif rendah dibandingkan dengan perguruan tinggi maju lainnya di Indonesia, distribusi doktor menurut fakultas juga mengalami ketimpangan. Doktor Unand terkonsentrasi di Fakultas Pertanian, FMIPA dan Fakultas Tenik. Ketimpangan antar fakultas juga diikuti ketimpangan doktor menurut jurusan atau program studi. Ketimpangan distribusi dosen yang berkualifikasi doktor ini adalah bagian persoalan yang harus diselesaikan Unand dalam waktu tidak terlalu lama.

Terdapat beberapa fakultas yang mempunyai dosen dengan kualifikasi doktor di bawah rata-rata Unand. Perhatikan Tabel 2, terdapat 4 fakultas (FTI, FKG, Kesmas dan Keperawatan) dengan jumlah dosen yang kualifikasi doktor hanya 4 orang pada Fakultas Kedokteran Gigi, 3 orang pada Fakultas Kesehatan Masyarakat, 2 orang pada Fakultas Keperawatan dan Fakultas Teknologi Informasi.  Ketiga fakultas ini adalah fakultas yang baru berdiri pada tahun 2012.

Jumlah dosen Unand yang sedang mengikuti program S3 di berbagai perguruan tinggi di dalam dan luar negeri sebanyak 298 orang. Jika semua dosen tersebut dapat menamatkan studi S3 sampai tahun 2018, maka jumlah doktor Unand baru mencapai 750 orang. Jumlah ini masih kurang dan belum memenuhi persyaratan minimal 60 % dosen berkualifikasi doktor untuk menjadi perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTNBH). Unand sangat memerlukan jumlah doktor lebih banyak lagi untuk berkembang lebih maju dari apa yang telah dicapai sekarang.

Meskipun Unand sudah mendapat akreditasi A untuk institusi, tidak banyak berarti seandainya diantara proram studi di lingkungan Unand belum mendapat akreditasi  regional di Asean atau akreditasi internasional. Untuk dapat memperoleh akreditasi di tingkat regional Asean atau internasional diperlukan jumlah dosen yang berkualifikasi doktor lebih banyak lagi. Oleh sebab itu tidak ada pilihan lain bagi Unand, selain  mendorong agar dosen yang sedang mengikuti studi dapat menamatkan studi secepat mungkin dan meminta dosen yang masih berkualifikasi S2 untuk S3 segera melanjutkan studi ke program S3 secepatnya.

Saat ini masih terdapat sebanyak 532 orang dosen Unand berkualifikasi S2 yang belum melanjutkan studi S2. Diantara dosen tersebut terdapat beberapa orang yang sudah berusia di atas 55 tahun. Tentu dosen yang masuk kelompok usia ini  menghadapi pilihan yang berat karena tidak mungkin lagi mendapat beasiswa dari pemerintah atau sumber beasiswa lainnya. Bagi dosen yang berusia di bawah umum 50 tahun perlu segera untuk menentukan pilihan untuk melanjutkan studi S3 sesegera mungkin. Kemudian bagi dosen yang berusia di bawah 35 tahun jangan menunda-nunda lagi untuk melanjutkan ke program studi S3 sesegera mungkin.

Beasiswa untuk melanjutkan studi S3 cukup banyak tersedia, baik dari sumber dalam negeri maupun luar negeri. Namun dosen Unand harus memenuhi beberapa persyaratan yang ditetapkan oleh pemberi beasiswa. Dosen muda Unand harus mempersiapkan diri semaksimal mungkin agar dapat memenuhi persyaratan yang ditetapkan dari setiap sumber beasiswa yang tersedia. Memang tantangan sangat berat sekali yang dihadapi oleh setiap dosen untuk melanjutkan studi S3, terutama tantangan non fisik, tetapi untuk meyakinkan diri agar mempunyai spirit yang kuat  harus diyakini bahwa di balik setiap kesulitan akan ada kemudahan dari berbagai pintu yang tidak diduga sama sekali. Oleh sebab itu,  dosen muda Unand diharapkan terus menjaga spirit yang tinggi untuk melanjutkan studi ke S3 dan tidak tenggelam dalam hambatan atau tantangan pribadi yang sedang dihadapi atau yang dibayangkan sendiri.

Padang, 22 November 2014

Rektor,

Profesor Dr H. Werry Darta Taifur, SE., MA.

 

  • Dr.dr.Hafni Bachtiar,MPH
  • Dr.dr.Masrul,MSc,SpGK
  • Dr.dr.Rosfita Rasyid,M.Kes
  • Dr.Yurniwati,SE,Msi,Akt
  • Dr.Ir.Indang Dewata,Msi
  • Dr.Ir.Eko Alvares.Z,MSA
  • Dr.Fauzan,MSc,ENG
  • Dr.Rahmi Fahmi,SE,MBA
  • Dr.Yulastri Arif,S.Kp,M.Kes
  • dr.Hardisman,M.HID,Dr.PH
  • dr.Firdawati,M.Kes,PhD
  • Dr.dr.Rima Semiarty,MARS
  • Dr.dr.Yuniar Lestari,M.Kes